
“Banal Semakin Binal“ Tawaran musik 'Lawas' dengan cara paling 'Modern', Trio asal Bogor.

Updated: Jan 17, 2023
Langkah tanpa henti diperlihatkan oleh The Jansen, diiringi gemuruh 'Amin' dari para militan nya, memang sudah semestinya mereka mendapatkan apresiasi yang tanpa henti itu.
Cerita yang bisa dibilang dimulai di bulan Maret ketika mereka memperdengarkan single “Mereguk Anti Depresan Lagi”, Dibulan yang sama, The Jansen terpilih menjadi satu dari tiga nama favorit dalam program Jameson Connects Indonesia, Yustinus Kristianto (Gerombolan Struzzo) mengapresiasi karya tersebut dengan membuatkan video musiknya, yang di sutradarai langsung oleh beliau, Impact yang sangat besar terjadi kepada meluasnya sebaran pendengar dari Trio asal Bogor itu.
Pancaran sinar lampu sorot terus menyinari mereka, postingan di feeds instagram penuh dengan warna-warni poster jadwal panggung, serta jumlah pengikut yang kian bertambah, tak lupa mulai saling ikuti akun sosial media dengan band-band senior nya, Sedap!.
Aksi panggung yang sangat 'Punk Rock' jika melihat dari panggung terakhirnya dalam pagelaran Synchronize Fest 2022 lalu, kerumunan penonton yang militan, saling bertukar keringat (sesekali botol minum) dan saling sikut naik ke atas panggung 'Punk Rock' , dan tentunya “Mereguk Anti Depresan Lagi“ sebagai anthem. Bukan tanpa alasan, jika dibuat grafik musikalitas mereka kian meningkat, diiringi dengan konsistensi nya.
“Banal Semakin Binal“, menyusul kehadiran dua album sebelumnya, “Present Continous“ (2017) dan “Say Say Say“ (2019). Perkenalan pertama melalui wujud suara kaset pita, kini format digital serta CD dan NFT juga sudah mereka liarkan bersama demajors di penghujung bulan Juli.
Bagaimana album "Banal Semakin Binal" bisa mendapat tempat ditengah bingar musik era sekarang yang mebombardir saya (atau bahkan kalian)?
Tentunya jawaban nya akan banyak berbeda, bahkan mungkin kontra, Namun dari yang saya tangkap melalui telinga serta kacamata saya, terdapat beberapa poin, musik yang dibuat 'se-ringan' mungkin, dan vokal yang 'effortless' memang menjadi ciri khas (mutlak) dari sang vokalis, serta muatan lirik berisi tumpah ruah, keluh kesah, dan gelisah di usia remaja yang relevan dengan kehidupan para pendengarnya, sungguh band yang mengerti isi hati para pendengarnya hehehe, sepertinya salah satu nya merupakan lulusan Psikologi hehehe.
The Jansen (masih) dengan romansa ‘marah-marah’ di album ini walau temponya kini tidak se-'ngabret' dua album sebelumnya. Di album ini mereka (masih) dengan pertanyaan-pertanyaan domestik perihal sejarah-sejarah di tanah air yang dipertanyakan orisinalitas nya apakah benar seperti yang ditampilkan di media, menyematkan narasi-narasi dapur yang mungkin mereka saja yang memahami artinya, dan membiarkan para pendengarnya menafsirkan dengan pakem masing-masing, hingga merespon sosok musisi Jimi Multhazam (menurut saya), di lagu “7456“ terdapat penggalan“Jangan bilang jangan bilang Jimi disini ada party...“, langit yang menurut mereka tak seharusnya biru (hai Themilo!), dua lagu itu menjadi favorit saya di album ini.
Dua lagu cinta disisipkan dari dua belas tajuk, “Dua Bilah Mata Pedang“ sebagai nomor pembuka, yang selama durasi lagu tampak sangat menyiksa lengan sang drummer dengan tempo ekstra ngebut ketika dibawakan secara langsung.
Semakin hari referensi kian masif, Beberapa eksplorasi pun mereka lakukan di album ini. Keseluruhan materi yang ditulis dengan lirik-lirik bahasa Indonesia (ala mereka) menjadi salah satunya, sebuah perubahan yang terbilang cukup signifikan mengingat di album sebelumnya mereka bernyanyi dengan dominasi bahasa Inggris (ala mereka).
Dari segi sound, mereka (masih) dengan 'jiwa muda' nya mempertahankan karakter sound yang ‘raw’ namun terdengar lebih matang dari segala lini. Dengan porsi yang pas, mereka membagi dua belas nomor tersebut dengan mid-tempo hingga high-tempo. Tidak melulu ngebut dan membuat penonton terus jingkrak-jingkrak, masih ada ruang bagi Tata (sang vokalis) dan para penonton untuk mengambil nafas dan mereguk sedikit 'Anti Depresan' di sela-sela sing a long yang komunal.
Sebagai kesimpulan, Tak dapat dipungkiri telinga muda-mudi Indonesia sudah 'jenuh' dengan suguhan musik-musik harmonis, melankolis dengan nada-nada nan horor. Trio Punk Rock asal Bogor hadir ditengah bingar musik 'Pop Rumit' (begitu saya menyebutnya), dengan mengusung ganre lawas Mid-Punk 70an (begitu yang tertulis pada bio mereka). "Banal Semakin Binal" patut untuk diperhitungkan sebagai rilisan penting di tahun ini. The Jansen masih bersenang-senang dengan masa remaja nya di album ketiga ini, kini dengan nuansa paling 'modern' tanpa meninggalkan karakter ‘lawas’ yang sudah melekat dan menjadi cikal-bakal band ini terbentuk sejak sekian tahun silam.
“Mungkin bukan standard musik yang baru, melainkan tawaran musik yang baru jika dilihat dari grafik bermunculannya band-band/musisi pada era sekarang“. - Aahrul Andila
“Banal Semakin Binal“ rilis pula dalam wujud kepingan CD yang bisa didapatkan di seluruh jaringan edar Demajors, segera kunjungi website nya di demajors.com !
The Jansen
"Banal Semakin Binal"
©2022, Demajors
Format digital sudah bisa didengarkan di platform idaman kalian!
-
Ditulis oleh : Aahrul Andila (Telaah Aahrul)
20/10/2022
Instagram : @telaahrul / @aahrulael
-
AS LIFE AS MUSIC!






👏🏻👏🏻👏🏻